Kamis, 07 Maret 2013

MAKRIFATULLOH



 Makrifatulloh Jalan Keselamatan Diri Dunia Akhirat .
Firman Allah dalam surah az-Zumar ayat 9 : “Adakah orang jahil sama dengan orang yang berilmu?”
Menurut ahli tasawuf, berilmu yang dimaksud di sini adalah Ilmu Makrifatulloh. Inilah ilmu yang paling utama dan penyelamat bagi manusia. Mengenal Allah secara ilmu zahiri adalah sebagai pengenalan awal kepada diriNya sedangkan pengenalan melalui cahaya hati adalah pengenalan yang hakiki. Hati yang bersih akan mengungkap berbagai rahasia ketuhanannya. Semakin ia bersih, semakin memancarlah makrifat pada hatinya. Hati yang memancar ini adalah hati yang melalui proses ilmu, ibadah dan mujahadah yang istiqamah. Mereka yang terungkap kepadanya rahasia ihsan (sentiasa melihat Allah atau Allah melihatnya) imannya tidak perlu kepada dalil atau bukti untuk membuktikan wujud Tuhan. Ini karena hatinya selalu melihat Allah di dalam pandangan dan pendengarannya di mana saja ia berada. Firman Allah : “Dimana kamu menghadap di situlah wajah Allah SWT.” (Al-Baqarah : 115)

<skrip asinkron src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2609852498490974"
     crossorigin="anonim"></script>


Hati yang bersih dari segala hijab keduniaan dan nafsu akan melihat dan merasakan ayat-ayat Allah dengan tampilan hakikat. Inilah kasyaf yang hakiki di mana hatinya dapat menangkap rahasia ayat-ayat Allah dengan penglihatan yang haq.
Hati yang bersih dari segala hijab inilah yang akhirnya dapat menyingkap ilmu mukasafah, yang merupakan ilmu-ilmu Alloh SWT yang masih merupakan rahasia Illahi yang belum terungkap didunia, namun tersimpan rapi dialam sana. Dengan membersihkan hati hingga hati menjadi bening, tidak hanya sekedar mata untuk kepuasan batin saja, tetapi juga berharap agar ilmu-ilmu Alloh SWT yang masih tersimpan disana, dapat diturunkan kepada umatNya, sehingga keselamatan ada pada diri kita semua.   sama halnya  manusia tak segan-segannya untuk terus menerus  bertafakkur agar memperoleh hidayah, maunah dan ilhamNya,  sehingga dengan mudah memecahkan persoalan-persoalan yang menjadi ganjalan dalam kelancaran hidup kita, baik hidup dalam konteks Hablumminalloh dan dalam konteks Habluminannas.
 Makrifat, berasal dari kata arif yang berarti tahu , dalam hal ini manusia yang dilahirkan dimuka bumi ini diwajibkan untuk tahu dan bukan hanya sekedar tahu tetapi diwajibkan mempelajari alam dan seisinya, termasuk berbagai macam ilmu pengetahuan, tehnologi dan seni dalam khasanah ilmu muamallah. Mempelajari dalam arti mengenal berbagai macam cabang ilmu pengetahuan, baik dari kelompok ilmu pengetahuan alam, atau ilmu pengetahuan sosial, dan juga tak luput ilmu kesenian, yang selanjutnya mewujudkannya untuk kepentingan umat manusia.
Dari ilmu pengetahuan alam menelorkan berbagai macam ilmu ilmu dasar, seperti matematika yang merupakan dasar dari ilmu statistika dan evaluasi, yang dalam terapannya sebagai alat hitung analisa data dibidang riset dalam memutuskan kesahihan kesimpulan dan keputusan suatu lembaga atau perusahaan dalam mengembangkan usahanya. Sedangkan evaluasi merupakan ilmu yang digunakan untuk mendeteksi kesahihan riset dari ilmu pendidikan dalam mengkaji terhadap anak didik atau instrument pembelajaran , dalam rangka mengembangkan profesionalitas guru dan prestasi peserta didik, serta system pendidikan. Dari ilmu biologi, menelorkan berbagai ilmu yang berhubungan dengan perkembangan tumbuhan, seperti Dendrologi, Ilmu kayu, Silvikultur dan Silvika,  ilmu Pengeringan Kayu dan Tehnologi Hasil Hutan. Semua ini merupakan ilmu-ilmu terapan yang pangkalnya berasal dari Biologi.  Dari ilmu Kimia, berhasil menciptakan pulp kertas yang merupakan bahan dasar pembuatan kertas, pengolahan limbah dengan proses daur ulang dan banyak lagi ilmu ilmu terapan yang dasarnya adalah ilmu kimia. Dari ilmu Fisika, berhasil menciptakan tehnologi kontruksi bangunan, baik yang bersifat permanen, seperti jembatan, gedung-gedung bertingkat, dan yang bersifat mobil seperti berbagai jenis kendaraan baik yang berupa roda dua atau roda empat.
Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun. Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa. Beribadah untuk kepentingan akherat dan beribadah untuk kepentingan dunia. Oleh karena itu manusia diciptakan dimuka bumi ini sebenarnya adalah khalifah, dalam arti sempit adalah pemimpin dari dirinya sendiri dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh sebagai hamba sahaya yang ingin mendapatkan rahmatNya. Sedangkan terhadap alam ciptananNya, memanfaatkan dan ikut menjaga keseimbangan alam, tentunya untuk kegiatan itu kita harus menguasai berbagai macam ilmu untuk melaksanakannya dan mendekatkan diri kepadaNya agar segala keruwetan yang kita hadapi terpecahkan dengan petunjukNya.
Secara garis besarnya ibadah itu dibagi dua, yaitu :
1. Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
2. Ibadah ‘ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT
Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedankan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)












Tidak ada komentar:

Posting Komentar