Kamis, 07 Maret 2013

NUR IHSAN



Urgensi Yakin
Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, maka dengan sangat yakin Allah pasti akan menolongnya. Seorang hamba yang yakin doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mengabulkan doa-doa tersebut lebih dari yang kita minta.
Dari sini kita layak merenung, mengapa kita banyak kecewa dan tidak puas dalam hidup. Boleh jadi kita lebih yakin akan kemampuan diri serta pertolongan makhluk, daripada pertolongan Allah. Sungguh manusia itu sangat lemah. Ia sama sekali tidak berkuasa mengatur dirinya sendiri, tidak tahu apa yang akan terjadi esok, serta bergantung pada kelemahan lainnya. Sungguh naif jika kita terlalu mengandalkan diri yang serba terbatas dengan melupakan Allah Yang Maha Segala-galanya. Maka, keyakinan yang bulat kepada-Nya menjadi jaminan kebahagiaan hidup kita.

<skrip asinkron src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2609852498490974"
     crossorigin="anonim"></script>

Setidaknya ada tiga tahap yang harus kita lewati usaha meningkatkan kualitas keyakinan. Pertama, 'Ilmu yaqin . Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu atau pengetahuan. Misal, di Mekah ada Ka'bah. Kita percaya karena teorinya bicara seperti itu
Di betapa pentingnya belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Sebab, semakin luas pengathuan kita tentang sesuatu, khususnya tentang Dzat Allah Azza Wa Jalla, seakan-akan kita memiliki bekal untuk berjalan mendekatinya.
Kedua, 'ainul yaqin , yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan ibadah haji sangat yakin bahwa Ka'bah itu memang ada di Mekah karena ia telah melihatnya. Keyakinan karena melihat, akan lebih kuat dibandingkan keyakinan karena ilmu.
Yang ketiga adalah haqqul yaqin . Orang yang telah haqqul yaqin akan memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang telah melakukan thawaf, berdoa di Multazam, merasakan ijabahnya doa, keyakinannya akan jauh lebih mendalam. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya. Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui proses dan tahapan, mulai dari 'ilmul yaqin, 'ainul yaqin, hingga haqqul yaqin.
UrgensiKesabaran.
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana hadits di atas.
Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian “nrimo”, ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan ilahi.
Kedudukan Ikhlas
Ikhlas adalah asas keberhasilan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Ikhlas bagi amal ibarat pondasi bagi sebuah bangunan dan ibarat ruh bagi sebuah jasad, di mana sebuah bangunan tidak akan dapat berdiri kokoh tanpa pondasi, demikian juga jasad tidak akan dapat hidup tanpa ruh. Oleh karena itu, amal shalih yang kosong dari keikhlasan akan menjadikannya mati, tidak bernilai serta tidak membuahkan apa-apa, atau dengan kata lain “wujuuduhaa ka’adamihaa” (Keberadaannya sama seperti ketidakadaannya).
Ikhlas juga merupakan syarat diterimanya amal di samping sesuai dengan Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam hadits Qudsi:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku sangat tidak butuh sekutu, siapa saja yang beramal menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syirknya.” (HR. Muslim)
Singkatnya, ikhlas adalah seseorang beribadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap siksa-Nya dan ingin mencari ridha-Nya.
Dzun Nun Al Mishriy rahimahullah berkata: “Tiga tanda keikhlasan adalah: (1) Seimbangnya pujian dan celaan orang-orang terhadapnya, (2) Lupa melihat amal dalam beramal, (3) Dan mengharapkan pahala amalnya di akhirat.”
Ikhlas dapat dikategorikan :
-    Ikhlas adalah pengesaan Allah Ta’ala dalam niat dan ketaatan.
-    Ikhlas adalah melupakan perhatian makhluk dan selalui mencari  Illah Ta’ala. 
-    Ikhlas adalah seorang berniat mendekatkan diri kepada Allah dalam ibadahnya.
-     Ikhlas adalah samanya perbuatan seorang hamba antara yang nampak dan yang tersembunyi.

Urgensi Tawakkal.
Tawakal ialah menyerahkan nasib diri dan nasib usaha kita kepada Allah. Sedangkan kita sendiri tidak mengurangi usaha dan tenaga dalam hal itu. Jika tercapai maksud kita, Hanya Allah yang  punya kuasa. Sedangkan jika gagal, hanya Allah yang punya kuasa.

Didalam Al-quran dan Hadist terdapat banyak ayat dan hadist yang menerangkan kepada kita, bahwa mansia harus tawakal dan tawakal kita harus didahului atau sekurang -kurangnya didahului dengan beberapa hal berikut ini:
Tawakal harus didahului dengan kebulatan tekad atau kemauan sebagaimana firman Allah di dalam Al-qur'an surat Al-Imran 159 yang artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan ituKemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. 

Tawakal harus didahului  dengan Usaha yang maksimal dengan sekuat tenaga. Usaha yang  dapat membawa sesorang untuk mencapai cita-cita yang dimaksud, seperti firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 60: "Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya."

Tawakal harus diusahakan dengan kesiapan mental  dalam menghadapi kemungkinan yang akan terjadi baik hal baik terutama hal buruk yang akan terjadi. Kita harus tetap optimis akan keberhasilan usaha secara maksimal dari kita & berikir positis terhadap kehendak Allah. Jika usaha berhasil, bersyukurlah kepada Allah atas karunia dan pertolongannya. Apaabila gagal, bersabarlah dan tidak berputus asa serta masih kuat kemampuannya untuk terus berusaha lagi. 

Urgensi Ridho.
1              Sifat ridha adalah sifat makrifah dan mahabbah kepada Allah s.w.t.
2.      Pengertian ridha ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah swt,
         baik berupa peraturan ( hukum ) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah  s.w.t.
3.     Ridha terhadap Allah s.w.t terbagi menjadi dua :
        *    Ridha menerima peraturan ( hukum ) Allah s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.
        *    Ridha menerima ketentuan Allah s.w.t. tentang nasib yang mengenai diri.

Ridha Menerima hukum Allah s.w.t. :
Ridha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan manifestasi dari kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. karena menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa.

Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada bahkan dengan gembira dan senang menerima syari’at yang digariskan oleh Allah s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah karena cinta kepada Allah s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh – sungguh “. ( Surah An-Nisaa’ : Ayat 65 )
Redha Dengan Qada’ :
Ridha dengan qada’ yaitu merasa menerima ketentuan nasib yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat atau pun berupa musibah ( malapetaka ). Di dalam hadisth diungkapkan bahwa di antara orang yang pertama memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. yaitu mereka memuji Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah atau pun dalam keadaan senang.

Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperoleh kegembiraan, Baginda berkata :
” Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurnalah kebaikan “.

Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan , Baginda mengucapkan :
” Segala puji bagi Allah atas segala perkara “.

Perintah ridha menerima ketentuan nasib daripada Allah s.w.t. dijelaskan di dalam hadisth Baginda yang lain yang bermaksud :

” Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah jadinya. Melainkan hendaklah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa yang ia suka , ia perbuat ! ” Karena sesungguhnya perkataan : andaikata… itu memberi peluang pada syaitan ” . (Riwayat Muslim)
Tetapi apakah manusia yakin, sabar, iklas dan ridho dalam kehidupannya, Tidak semua manusia bias melakukannya, sehingga manusia menggugurkan tawakkalnya , akhirnya timbul sifat yang salah  ( kepribadian yang tidak sehat ).


Kepribadian yang tidak sehat :
  • Mudah marah (tersinggung)
  • Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
  • Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
  • Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
  • Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
  • Kebiasaan berbohong
  • Hiperaktif
  • Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
  • Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
  • Sulit tidur
  • Kurang memiliki rasa tanggung jawab
  • Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
  • Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
  • Pesimis dalam menghadapi kehidupan
  • Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan
Dari berbagai hal diatas dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki 15 Sifat buruk yaitu :
  1. Manusia itu LEMAH
  2. Manusia itu suka TERGESA-GESA
  3. Manusia itu suka BERKELUH KESAH
  4. Manusia itu SUKA MEMBANTAH
  5. Manusia itu KIKIR
  6. Manusia itu DZOLIM dan BODOH
  7. Manusia itu suka BERANGAN-ANGAN
  8. Manusia itu PELUPA
  9. Manusia itu GAMPANG TERPERDAYA
  10. Manusia itu mudah LALAI
  11. Manusia itu PENAKUT/GAMPANG KHAWATIR
  12. Manusia itu SUKA MENGKUFURI NIKMAT
  13. Manusia itu SUKA MENURUTI PRASANGKA
  14. Manusia itu suka BERLEBIH-LEBIHAN
  15. Manusia itu GAMPANG BERSEDIH HATI

Selanjutnya timbullah sifat-sifta buruk yang menghiasi kepribadiannya, yaitu  Sifat-sifat Mazmumah (buruk) : 
1. Syarrut ta‘am (banyak makan) yaitu terlampau banyak makan atau minum ataupun gelojoh
    ketika makan atau minum.
  • Makan dan minum yang berlebih-lebihan itu menyebabkan seseorang itu malas dan lemah serta membawa kepada banyak tidur. Ini menyebabkan kita lalai untuk menunaikan ibadah dan zikrullah. Makan dan minum yang berlebih-lebihan adalah dilarang walaupun tidak membawa kepada lalai dari menunaikan ibadah,tapi karena termasuk di dalam amalan mubazir.
2. Syarrul kalam (banyak bercakap) yaitu banyak berkata-kata atau banyak bicara.
  • Banyak berkata-kata itu boleh membawa kepada banyak salah, dan banyak salah itu membawa kepada banyak dosa serta menyebabkan orang yang mendengar itu mudah merasa jemu.
3. Ghadhab (pemarah) berarti sifat pemarah, yaitu marah yang bukan pada menyeru kebaikan
     atau mendekati kejahatan.
  • Sifat pemarah adalah senjata bagi yang menjaga hak dan kebenaran. Oleh karena itu, seseorang yang tidak mempunyai sifat pemarah akan dizalimi dan akan dicerobohi hak-haknya.
  • Sifat pemarah yang dicela ialah marah yang bukan pada tempatnya dan tidak dengan sesuatu sebab yang benar.
4. Hasad (dengki) yaitu menginginkan nikmat yang diperoleh oleh orang lain hilang atau
    berpindah kepadanya.
  • Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripada dirinya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala karena termasuk ingin mengkaruniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.
  • Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerusakan.
5. Bakhil (pelit) yaitu menahan haknya untuk dibelanjakan atau digunakan kepada jalan yang
   dituntut oleh agama.
  • Nikmat yang dikaruniakan oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada seseorang itu merupakan sebagai alat untuk membantu dirinya dan juga membantu orang lain.Oleh sebab itu, nikmat dan pemberian Allah menjadi sia-sia jika tidak digunakan dan dibelanjakan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata‘ala. Lebih-lebih lagi dalam perkara-perkara yang menyempurnakan agama seperti zakat, mengerjakan haji dan memberi nafkah kepada tanggungan, maka menahan hak atau harta tersebut adalah suatu kesalahan besar di sisi agama.
6. Hubbul jah (Mencintai kemegahan)yaitu memikirkan kemegahan, kebesaran dan pangkat,
   tetapi melupakan yang lainnya.
  • Perasaan menginginkan kemegahan dan pangkat kebesaran menjadikan perbuatan seseorang itu tidak ikhlas karena Allah.
  • Akibat dari sifat tersebut bisa membawa kepada tipu daya sesama manusia dan bisa menyebabkan seseorang itu membelakang pada kebenaran karena menjaga pangkat dan kebesaran.
7. Hubbud dunya (Cinta dunia) bermaksud menginginkan dunia, yaitu mencintai perkara-
    perkara yang berbentuk keduniaan yang tidak membawa sedikit pun kebajikan di akherat.
  • Banyak perkara yang diinginkan oleh manusia yang terdiri dari kesenangan dan kemewahan. Di antara perkara-perkara tersebut ada perkara-perkara yang tidak dituntut oleh agama dan tidak menjadi kebajikan di akhirat.
  • Oleh yang demikian, cinta dunia itu adalah mengutamakan perkara-perkara tersebut sehingga membawa kepada lalai hatinya dari menunaikan kewajiban-kewajiban kepada Allah.
  • Namun begitu, menjadikan dunia sebagai jalan untuk menuju keridhaan Allah bukanlah suatu kesalahan.
8. Takabbur (sombong) yaitu membesarkan diri atau berkelakuan sombong dan congkak.
  • Orang yang takabbur itu memandang dirinya lebih mulia dan lebih tinggi pangkatnya daripada orang lain serta memandang orang lain itu hina dan rendah pangkat.
  • Sifat takabbur ini tiada sedikit pun faedah, tetapi malah membawa kepada kebencian Allah dan juga manusia dan kadangkala membawa kepada keluar daripada agama(murtad) karena enggan tunduk kepada kebenaran.
9.‘Ujub (bangga diri) yaitu merasa atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.
  • Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahwa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka bahwa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.
  • Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahwa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.
10. Riya’ (menmamerkan kebaikan kepada orang lain) yaitu memperlihatkan dan menunjuk-
      nunjuk amalan kepada orang lain.
  • Setiap amalan yang dilakukan dengan tujuan menunjuk-nunjuk akan hilanglah keikhlasan dan menyimpang dari tujuan asal untuk beribadah kepada Allah semata-mata.
  • Orang yang riya’ adalah sia-sia segala amalannya karena niatnya telah menyimpang yang disebabkan oleh dirinya sendiri yang hanya menginginkan pujian dari manusia.
Dan dari sifat-sifat yang buruk itulah maka akan timbul berbagai macam penyakit.
Ketahuilah sahabatku, bahwa sifat-sifat buruk dan kondisi emosi kita yang kurang stabil dapat menyebabkan kita terserang suatu penyakit. Apalagi bila kita selalu memiliki pikiran yang negatif dan memiliki kepribadian yang “buruk”, maka secara tidak langsung akan memperburuk kondisi kesehatan kita.
Lalu, sifat negatif apa saja sih, yang dapat menyebabkan tubuh kita kurang sehat?
inilah diantaranya
1. Rasa Bosan (sakit kepala, athritis, dan jantung)
Rasa bosan yang menghantui seseorang memang sangat erat kaitannya dengan sakit kepala. Rasa bosan biasanya dapat melahirkan emosi negatif pada tubuh seseorang. Sehingga dengan mudah meningkatkan stress dan memperlemah sistem kekebalan tubuh yang tentunya akan mempermudah terjangkitnya suatu peenyakit, terutama sakit kepala
2. Rasa Cemas dan Panik berlebihan (gangguan lambung)
Salah seorang dosen kedokteran dari Universitas Nort Caroline, Douglas Drossman , pernah melakukan penelitian terhadap beberapa orang wanita, yang hasilnya adalah wanita yang selalu merasa cemas dan panik yang sangat berlebihan terhadap hal-hal kecil sekalipun akan sangat mudah terserang gangguan pada lambungnya.
3. Tidak Sabaran dan Emosional atau Gampang Marah (penyakit jantung dan stroke)
Ketika seseorang sedang marah, maka tekanan darahnya akan cepat naik dan pernapasannya akan semakin cepat sehingga otot menjadi tegang. Hal ini tentunya akan mengganggu sistem peredaran darah pada jantung seseorang yang seharusnya berjalan normal tanpa tekanan. Dan bila hal ini berlarut-larut tidak tertutup kemungkinan seseorang itu akan mudah terkena penyakit jantung dan akhirnya dapat menyebabkan stroke.
4. Tidak Percaya Diri dan Rendah Diri yang Berlebihan (gampang Sakit)
Orang yang memiliki sifat rendah diri biasanya memiliki hubungan yang sangat buruk dengang lingkungan sekitarnya, begitu juga dengan keluarga terdekatnya. Dimungkinkan bahwa tubuhnyapun memiliki respon yang sama terhadap penyakit didalam tubuhnya. Yangmana tubuhnyapun memiliki protecksi yang sangat rendah terhadap penyakit. Sehingga ketika virus penyebab suatu penyakit itu datang, maka dengan sangat mudah menjangkiti tubuhnya. Dan begitu juga dalam hal proses penyembuhannya akan semakin terhambat akibat kurangnya respon positif yang ada dalam tubuhnya.

                                 Gambar : Nur Ihsan dan ekspresinya dalam kehidupan

Maka selanjutnya agar manusia bias selamat dalam kehidupannya baik didunia dan akherat, manusia harus kembali kepada fitrahnya, dan memerangi sifat-sifat yang buruh, dan menanamkan  sifat-sifat yang sehat dalam kepribadiannya dan kehidupannya.

Kepribadian yang sehat :
  • Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
  • Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
  • Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
  • Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
  • Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
  • Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
  • Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
  • Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
  • Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
  • Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
  • Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang)

Dengan menanamkan sifat-sifat yang sehat, maka akan lahir sifat - sifat terpuji , dimana didalam Islam  sifat-sifat terpuji itu adalah :

1.      Tafakkur dan Taubah 
Tafakkur adalah berpikir yang mengandung pengakuan dan penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan serta bertaubat dari segala dosa. Cara bertafakur menurut dia, adalah dengan membaca Dua Kalimah Syahadah secara perlahan-lahan dan menghayati maknanya. Selanjutnya melakukan tiga perkara dalam tafakkur yaitu:
-   ‘Ibrah, yaitu mencari-cari kesalahan diri sendiri, menyesalinya, dan berjanji tidak akan
      melakukan perbuatan-perbuatan itu lagi.
-     Khawf, yaitu takut akan murka Allah dan siksa-Nya serta takut tidak diterima amal-
       nya.
-     Raja’, yaitu berharap akan rahmat dan ampunan Allah serta berharap akan diterima
       segala amalannya.
2.      . Al-Zuhd 
Kehidupan yang kekal adalah kehidupan di akhirat, sedangkan kehidupan di dunia harus dijadikan bekal ke akhirat. Selanjutnya dia peringatkan agar hidup jangan tertipu dan terpedaya dengan dunia.
3.      Tawakkal 
Tawakal adalah menyerahkan diri. Dalam lirik syairnya "menyerahkan diri jangan menyesal" dapat diartikan rela terhadap apa yang dikehendaki Allah SWT. Penjelasannya ini sejalan dengan pendapat Bisyr Al-Hafi yang dikutip Al-Qusyairi mengatakan “Saya bertawakal kepada Allah SWT., sedang orang lain berbohong kepada-Nya. Seandainya dia bertawakal kepada Allah SWT., maka pasti dia rela terhadap apa yang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT”.
4.      Shabar 
Manusia perlu senantiasa bersabar, baik bersabar dalam menggunakan nikmat, bersabar melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, maupun bersabar dalam menerima cobaan atau hal-hal yang tidak diingini. Abdurrahman Shiddiq menganjurkan agar senantiasa dapat bersabar dan menahan marah, sebab sifat sabar mendatangkan banyak mamfaat
Selanjutnya dijelaskannya, bahwa orang yang tidak mempunyai sifat sabar akan mudah dihinggapi sifat marah. Menurut dia, ada beberapa kerugian sebagai akibat dari sifat marah. Pertama, hilang akal dan keseimbangan jiwa, sehingga akan salah dalam mengambil sikap dan tindakan. Kedua, hilangnya atau berkurangnya iman seseorang. Ketiga, kehilangan sahabat .
5.      Ikhlash dan menjauhi riya 
Ikhlash adalah bersih amal kepada Allah, dan sifat ini merupakan syarat untuk mendapatkan pahala amal ibadah. Dia membagi ikhlash dalam dua macam, yaitu ikhlash al-abrar dan ikhlash al-muqarrabin. Ikhlash al-abrar adalah seseorang beramal karena semata-mata menjunjung perintah Allah SWT. tanpa mengharapkan apapun selain daripada Allah, termasuk tidak mengharapkan surga dan juga tidak memohon dijauhkan dari api neraka. Sedangkan ikhlash al-muqarrabin adalah seseorang beramal, tetapi tidak mengakui dan tidak merasa bahwa amalan-amalan itu sebagai usaha ikhtiarnya, bahkan dalam ma’rifatnya semuanya itu adalah semata-mata amalan Allah dan atas taufik-Nya. Ikhlash al-abrar disebut ikhlash li Allah (ikhlas karena Allah), sedangkan ikhlash al-muqarrabin disebut ikhlash bi Allah (ikhlas dengan pertolongan Allah). Ikhlash al-muqarrabin merupakan pengertian ikhlash menurut pandangan ulama tasawuf, di mana para sufi menyebutkan bahwa ikhlash adalah melepaskan diri dari pada daya dan upaya. Apabila keikhlasan seseorang bisa sampai pada peringkat kedua ini, maka ia akan terhindar dari pada sifat riya, ‘ujub, dan sum’ah
Dalam kitabnya Risalah fi Aqaid al-Iman Abdurrahman Shiddiq membagi riya dalam dua macam, yaitu riya jali (yang nyata) dan riya khafi (yang tersembunyi). Riya jali adalah seseorang beramal di hadapan orang lain, tetapi apabila ia sendirian amalan itu tidak dikerjakannya. Sedangkan riya khafi ialah seseorang beramal baik di hadapan orang lain ataupun tidak, tetapi dia suka kalau mereka berada di hadapannya.
Sum’ah, ialah seseorang beramal sendirian kemudian dia menghabarkannya kepada orang lain, supaya mereka membesarkannya atau supaya dia mendapat kebajikan dari mereka. Adapun ‘ujub adalah seseorang merasa heran atas kepandaian dan kehebatannya. Misalnya, seorang ‘abid merasa kagum dengan ibadahnya, atau seorang alim merasa kagum dengan ilmunya.
6.      Tawadhu’dan menjauhi takabbur. 
Sifat tawadhu menunjukkan adanya keluasan akal dan pandangan, dan sebaliknya sifat takabbur menunjukkan kepicikan akal pikiran. Dia menegaskan, bahwa sifat takabur sangat dilarang oleh Allah SWT.. Orang takabur dikatakannya sebagai seorang yang celaka, oleh karenanya akan dimasukkan ke dalam api neraka.
7.      Syukur dan Ridha 
Abdurrahman Shiddiq menganjurkan hamba Allah agar selalu ridha terhadap qadha Allah, dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya dan bersabar atas cobaan-Nya. Syukur ialah menggunakan nikmat yang diperoleh pada jalan yang diridai Allah SWT . Manusia harus mensyukuri pemberian Allah, ridha terhadap ketentuan-Nya, serta bersabar menanggung cobaan, untuk itu seseorang harus husn al-zhan kepada Allah. Selanjutnya ia membagi husn al-zhan kepada empat bagian. Pertama, seseorang berprasangka bahwa Allah mengasihinya. Kedua, berprasangka bahwa Allah mengetahui akan segala kesalahannya. Ketiga, berprasangka bahwa Allah mengampuni segala dosanya. Dan keempat, berprasangka bahwa segala yang tersebut itu mudah bagi Allah SWT.
8.      Shiddiq 
Abdurrahman Shiddiq menekankan pentingnya shiddiq (benar) dalam berperilaku sehari-hari, selalu benar dalam segala ucapan dan perbuatan.
9.      Mahabbah (Mencintai Allah dan Rasul-NYa)
Dalam kitabnya Asrar al-Shalat min ‘Iddat Kutub al-Mu’tamadah menyebutkan; “Adapun syarat-syarat sah iman itu, di antaranya mencintai akan Allah SWT. dan mencintai Nabi.” Mahabbah kepada Allah adalah orang yang senantiasa melakukan tafakkur dan zikrullah.
10.  Zikr al-Maut (Mengingat Mati)
Setiap orang perlu menyadari dan menginsyapi akan adanya kematian. Kesadaran akan datangnya maut, merupakan pendorong bagi seseorang untuk bekerja keras untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan dan menghindari yang merugikannya di alam akhirat.
Dalam ajarannya tentang taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Ajaran taubah dan lain-lainnya itu disebutnya sebagai tarekat (jalan) yang menyempurnakan syariat dan ta’alluq (bergantung) pada hati serta diimplikasikan dalam perilaku . Dengan demikian, menurut Abdurrahman Siddiq; ajaran taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut dan sifat-sifat terpuji lainnya merupakan nilai etika atau akhlak yang akan diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang hamba dalam merambah kesempurnaan spritual dalam praktik ibadah.

Dengan sendirinya sifat-sifat ini akan terhujam didalam lubuk hati yang paling dalam, rasa yakin, sabar, ikhlas, tawakkal, dan ridho.  Yang akhirnya akan terpancar dalam kehidupannya, baik dalam hal ihsan kepada Alloh, ihsan kepada Manusia, ihsan kepada tumbuhan, dan ihsan kepada hewan.
InsyaAlloh dengan demikian  manusia akan selamat  baik didunia dan diakherat kelak. Amin.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar