Urgensi Yakin
Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, maka dengan sangat yakin Allah pasti akan menolongnya. Seorang hamba yang yakin doanya akan dikabulkan, maka Allah akan mengabulkan doa-doa tersebut lebih dari yang kita minta.
Dari sini kita layak merenung, mengapa kita banyak kecewa dan tidak puas dalam hidup. Boleh jadi kita lebih yakin akan kemampuan diri serta pertolongan makhluk, daripada pertolongan Allah. Sungguh manusia itu sangat lemah. Ia sama sekali tidak berkuasa mengatur dirinya sendiri, tidak tahu apa yang akan terjadi esok, serta bergantung pada kelemahan lainnya. Sungguh naif jika kita terlalu mengandalkan diri yang serba terbatas dengan melupakan Allah Yang Maha Segala-galanya. Maka, keyakinan yang bulat kepada-Nya menjadi jaminan kebahagiaan hidup kita.
<skrip asinkron src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-2609852498490974"
crossorigin="anonim"></script>
Setidaknya ada tiga tahap yang harus kita lewati usaha meningkatkan kualitas keyakinan. Pertama, 'Ilmu yaqin . Yaitu meyakini segala sesuatu berdasarkan ilmu atau pengetahuan. Misal, di Mekah ada Ka'bah. Kita percaya karena teorinya bicara seperti itu
Di betapa pentingnya belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Sebab, semakin luas pengathuan kita tentang sesuatu, khususnya tentang Dzat Allah Azza Wa Jalla, seakan-akan kita memiliki bekal untuk berjalan mendekatinya.
Kedua, 'ainul yaqin , yaitu keyakinan yang timbul karena kita telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Orang yang telah menunaikan ibadah haji sangat yakin bahwa Ka'bah itu memang ada di Mekah karena ia telah melihatnya. Keyakinan karena melihat, akan lebih kuat dibandingkan keyakinan karena ilmu.
Yang ketiga adalah haqqul yaqin . Orang yang telah haqqul yaqin akan memiliki keyakinan yang dalam dan terbukti kebenarannya. Orang yang telah melakukan thawaf, berdoa di Multazam, merasakan ijabahnya doa, keyakinannya akan jauh lebih mendalam. Inilah tingkat keyakinan tertinggi yang akan sulit diruntuhkan dan dicabut dari hati orang yang memilikinya. Cara meningkatkan kualitas keyakinan diri, sejatinya harus melalui proses dan tahapan, mulai dari 'ilmul yaqin, 'ainul yaqin, hingga haqqul yaqin.
UrgensiKesabaran.
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana hadits di atas.
Namun
kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian “nrimo”, ketidak mampuan
dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang
lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam
berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan
agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam
diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan
memenuhi panggilan ilahi.
Kedudukan
Ikhlas
Ikhlas adalah asas keberhasilan dan
keberuntungan di dunia dan akhirat. Ikhlas bagi amal ibarat pondasi bagi sebuah
bangunan dan ibarat ruh bagi sebuah jasad, di mana sebuah bangunan tidak akan
dapat berdiri kokoh tanpa pondasi, demikian juga jasad tidak akan dapat hidup
tanpa ruh. Oleh karena itu, amal shalih yang kosong dari keikhlasan akan
menjadikannya mati, tidak bernilai serta tidak membuahkan apa-apa, atau dengan
kata lain “wujuuduhaa ka’adamihaa” (Keberadaannya sama seperti
ketidakadaannya).
Ikhlas juga merupakan syarat
diterimanya amal di samping sesuai dengan Sunnah. Allah Azza wa Jalla berfirman
dalam hadits Qudsi:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ
عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku sangat tidak butuh sekutu,
siapa saja yang beramal menyekutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan
meninggalkan dia dan syirknya.” (HR. Muslim)
Singkatnya, ikhlas adalah seseorang beribadah dengan niat
mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap
siksa-Nya dan ingin mencari ridha-Nya.
Dzun Nun Al Mishriy rahimahullah
berkata: “Tiga tanda keikhlasan adalah: (1) Seimbangnya pujian dan celaan orang-orang
terhadapnya, (2) Lupa melihat amal dalam beramal, (3) Dan mengharapkan pahala
amalnya di akhirat.”
Ikhlas
dapat dikategorikan :
-
Ikhlas adalah pengesaan Allah Ta’ala dalam niat dan ketaatan.
-
Ikhlas adalah melupakan perhatian makhluk dan selalui mencari Illah Ta’ala.
-
Ikhlas adalah seorang berniat mendekatkan diri kepada Allah dalam ibadahnya.
-
Ikhlas adalah samanya perbuatan seorang hamba antara yang nampak dan
yang tersembunyi.
Urgensi
Tawakkal.
Tawakal ialah menyerahkan nasib diri
dan nasib usaha kita kepada Allah. Sedangkan kita sendiri tidak mengurangi
usaha dan tenaga dalam hal itu. Jika tercapai maksud kita, Hanya Allah
yang punya kuasa. Sedangkan jika gagal, hanya Allah yang punya kuasa.
Didalam
Al-quran dan Hadist terdapat banyak ayat dan hadist yang menerangkan kepada
kita, bahwa mansia harus tawakal dan tawakal kita harus didahului atau sekurang
-kurangnya didahului dengan beberapa hal berikut ini:
Tawakal
harus didahului dengan kebulatan tekad atau kemauan sebagaimana firman Allah di
dalam Al-qur'an surat Al-Imran 159 yang artinya: Maka disebabkan rahmat
dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan ituKemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Tawakal
harus didahului dengan Usaha yang maksimal dengan sekuat tenaga. Usaha
yang dapat membawa sesorang untuk mencapai cita-cita yang dimaksud,
seperti firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 60: "Siapkanlah untuk
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda
yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian
menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang selain mereka yang
tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya."
Tawakal harus diusahakan dengan kesiapan mental dalam menghadapi
kemungkinan yang akan terjadi baik hal baik terutama hal buruk yang akan
terjadi. Kita harus tetap optimis akan keberhasilan usaha secara maksimal dari
kita & berikir positis terhadap kehendak Allah. Jika usaha berhasil,
bersyukurlah kepada Allah atas karunia dan pertolongannya. Apaabila gagal,
bersabarlah dan tidak berputus asa serta masih kuat kemampuannya untuk terus
berusaha lagi.
Urgensi Ridho.
1
Sifat ridha adalah sifat makrifah dan mahabbah
kepada Allah s.w.t.
2. Pengertian ridha ialah menerima dengan
senang segala apa yang diberikan oleh Allah swt,
baik berupa peraturan ( hukum ) atau
pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah s.w.t.
3. Ridha terhadap Allah s.w.t terbagi menjadi
dua :
* Ridha menerima peraturan ( hukum ) Allah
s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.
* Ridha menerima ketentuan Allah s.w.t.
tentang nasib yang mengenai diri.
Ridha Menerima
hukum Allah s.w.t. :
Ridha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan
manifestasi dari kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah
s.w.t. karena menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan
tidak merasa terpaksa atau dipaksa.
Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada
bahkan dengan gembira dan senang menerima syari’at yang digariskan oleh Allah
s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah karena cinta kepada Allah
s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.
Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang
beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka
perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati
mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh
– sungguh “. ( Surah An-Nisaa’ : Ayat 65 )
Redha
Dengan Qada’ :
Ridha dengan qada’ yaitu merasa menerima ketentuan nasib
yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat atau pun berupa musibah (
malapetaka ). Di dalam hadisth diungkapkan bahwa di antara orang yang pertama
memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. yaitu mereka memuji
Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah atau pun dalam keadaan
senang.
Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperoleh
kegembiraan, Baginda berkata :
” Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi
sempurnalah kebaikan “.
Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan ,
Baginda mengucapkan :
” Segala puji bagi Allah atas segala perkara “.
Perintah ridha menerima ketentuan nasib daripada Allah
s.w.t. dijelaskan di dalam hadisth Baginda yang lain yang bermaksud :
” Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau
berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah
jadinya. Melainkan hendaklah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa
yang ia suka , ia perbuat ! ” Karena sesungguhnya perkataan : andaikata… itu
memberi peluang pada syaitan ” . (Riwayat Muslim)
Tetapi apakah
manusia yakin, sabar, iklas dan ridho dalam kehidupannya, Tidak semua manusia
bias melakukannya, sehingga manusia menggugurkan tawakkalnya , akhirnya timbul
sifat yang salah ( kepribadian yang
tidak sehat ).
Kepribadian
yang tidak sehat :
- Mudah marah (tersinggung)
- Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
- Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
- Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya
lebih muda atau terhadap binatang
- Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang
meskipun sudah diperingati atau dihukum
- Kebiasaan berbohong
- Hiperaktif
- Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
- Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
- Sulit tidur
- Kurang memiliki rasa tanggung jawab
- Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan
faktor yang bersifat organis)
- Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
- Pesimis dalam menghadapi kehidupan
- Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan
Dari berbagai
hal diatas dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki 15 Sifat buruk yaitu :
- Manusia itu LEMAH
- Manusia itu suka TERGESA-GESA
- Manusia itu suka BERKELUH KESAH
- Manusia itu SUKA MEMBANTAH
- Manusia itu KIKIR
- Manusia itu DZOLIM dan BODOH
- Manusia itu suka BERANGAN-ANGAN
- Manusia itu PELUPA
- Manusia itu GAMPANG TERPERDAYA
- Manusia itu mudah LALAI
- Manusia itu PENAKUT/GAMPANG KHAWATIR
- Manusia itu SUKA MENGKUFURI NIKMAT
- Manusia itu SUKA MENURUTI PRASANGKA
- Manusia itu suka BERLEBIH-LEBIHAN
- Manusia itu GAMPANG BERSEDIH HATI
1. Syarrut ta‘am (banyak makan) yaitu
terlampau banyak makan atau minum ataupun gelojoh
ketika makan atau minum.
- Makan dan minum yang berlebih-lebihan itu menyebabkan seseorang
itu malas dan lemah serta membawa kepada banyak tidur. Ini menyebabkan
kita lalai untuk menunaikan ibadah dan zikrullah. Makan dan minum yang
berlebih-lebihan adalah dilarang walaupun tidak membawa kepada lalai dari
menunaikan ibadah,tapi karena termasuk di dalam amalan mubazir.
2. Syarrul kalam (banyak bercakap) yaitu
banyak berkata-kata atau banyak bicara.
- Banyak berkata-kata itu boleh membawa kepada banyak salah, dan
banyak salah itu membawa kepada banyak dosa serta menyebabkan orang yang
mendengar itu mudah merasa jemu.
3. Ghadhab (pemarah) berarti sifat
pemarah, yaitu marah yang bukan pada menyeru kebaikan
atau mendekati kejahatan.
- Sifat pemarah adalah senjata bagi yang menjaga hak dan
kebenaran. Oleh karena itu, seseorang yang tidak mempunyai sifat pemarah
akan dizalimi dan akan dicerobohi hak-haknya.
- Sifat pemarah yang dicela ialah marah yang bukan pada tempatnya
dan tidak dengan sesuatu sebab yang benar.
4. Hasad (dengki) yaitu menginginkan
nikmat yang diperoleh oleh orang lain hilang atau
berpindah kepadanya.
- Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain
mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih
daripada dirinya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat
demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala karena
termasuk ingin mengkaruniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.
- Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan
berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan
fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerusakan.
5. Bakhil (pelit) yaitu menahan haknya
untuk dibelanjakan atau digunakan kepada jalan yang
dituntut oleh agama.
- Nikmat yang dikaruniakan oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada
seseorang itu merupakan sebagai alat untuk membantu dirinya dan juga
membantu orang lain.Oleh sebab itu, nikmat dan pemberian Allah menjadi
sia-sia jika tidak digunakan dan dibelanjakan sebagaimana yang dikehendaki
oleh Allah subhanahu wata‘ala. Lebih-lebih lagi dalam perkara-perkara yang
menyempurnakan agama seperti zakat, mengerjakan haji dan memberi nafkah
kepada tanggungan, maka menahan hak atau harta tersebut adalah suatu
kesalahan besar di sisi agama.
6. Hubbul jah (Mencintai kemegahan)yaitu memikirkan
kemegahan, kebesaran dan pangkat,
tetapi melupakan yang lainnya.
- Perasaan menginginkan kemegahan dan pangkat kebesaran
menjadikan perbuatan seseorang itu tidak ikhlas karena Allah.
- Akibat dari sifat tersebut bisa membawa kepada tipu daya
sesama manusia dan bisa menyebabkan seseorang itu membelakang
pada kebenaran karena menjaga pangkat dan kebesaran.
7. Hubbud dunya (Cinta dunia) bermaksud menginginkan
dunia, yaitu mencintai perkara-
perkara yang berbentuk keduniaan yang tidak
membawa sedikit pun kebajikan di akherat.
- Banyak perkara yang diinginkan oleh manusia yang terdiri dari
kesenangan dan kemewahan. Di antara perkara-perkara tersebut ada
perkara-perkara yang tidak dituntut oleh agama dan tidak menjadi kebajikan
di akhirat.
- Oleh yang demikian, cinta dunia itu adalah mengutamakan
perkara-perkara tersebut sehingga membawa kepada lalai hatinya dari
menunaikan kewajiban-kewajiban kepada Allah.
- Namun begitu, menjadikan dunia sebagai jalan untuk menuju
keridhaan Allah bukanlah suatu kesalahan.
8. Takabbur (sombong) yaitu membesarkan
diri atau berkelakuan sombong dan congkak.
- Orang yang takabbur itu memandang dirinya lebih mulia dan lebih
tinggi pangkatnya daripada orang lain serta memandang orang lain itu hina dan
rendah pangkat.
- Sifat takabbur ini tiada sedikit pun faedah, tetapi malah
membawa kepada kebencian Allah dan juga manusia dan kadangkala membawa
kepada keluar daripada agama(murtad) karena enggan tunduk kepada
kebenaran.
9.‘Ujub (bangga diri) yaitu merasa atau
menyangkakan dirinya lebih sempurna.
- Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam
hatinya sangkaan bahwa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi
pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka
bahwa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.
- Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan
memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahwa tiap-tiap sesuatu itu ada
kelebihannya.
10. Riya’ (menmamerkan kebaikan kepada orang
lain) yaitu memperlihatkan dan menunjuk-
nunjuk amalan kepada orang lain.
- Setiap
amalan yang dilakukan dengan tujuan menunjuk-nunjuk akan hilanglah
keikhlasan dan menyimpang dari tujuan asal untuk beribadah kepada Allah
semata-mata.
- Orang yang riya’ adalah sia-sia segala amalannya karena niatnya
telah menyimpang yang disebabkan oleh dirinya sendiri yang hanya
menginginkan pujian dari manusia.
Dan dari sifat-sifat yang buruk itulah
maka akan timbul berbagai macam penyakit.
Ketahuilah sahabatku, bahwa
sifat-sifat buruk dan kondisi emosi kita yang kurang stabil dapat menyebabkan
kita terserang suatu penyakit. Apalagi bila kita selalu memiliki pikiran yang
negatif dan memiliki kepribadian yang “buruk”, maka secara tidak langsung akan
memperburuk kondisi kesehatan kita.
Lalu, sifat negatif apa saja sih, yang dapat menyebabkan tubuh kita kurang
sehat?
inilah diantaranya
1. Rasa Bosan (sakit kepala,
athritis, dan jantung)
Rasa bosan yang menghantui seseorang memang sangat erat kaitannya dengan sakit
kepala. Rasa bosan biasanya dapat melahirkan emosi negatif pada tubuh
seseorang. Sehingga dengan mudah meningkatkan stress dan memperlemah sistem
kekebalan tubuh yang tentunya akan mempermudah terjangkitnya suatu peenyakit,
terutama sakit kepala
2. Rasa Cemas dan Panik
berlebihan (gangguan lambung)
Salah seorang dosen kedokteran dari Universitas Nort Caroline, Douglas Drossman
, pernah melakukan penelitian terhadap beberapa orang wanita, yang hasilnya
adalah wanita yang selalu merasa cemas dan panik yang sangat berlebihan
terhadap hal-hal kecil sekalipun akan sangat mudah terserang gangguan pada
lambungnya.
3. Tidak Sabaran dan
Emosional atau Gampang Marah (penyakit jantung dan stroke)
Ketika seseorang sedang marah, maka tekanan darahnya akan cepat naik dan
pernapasannya akan semakin cepat sehingga otot menjadi tegang. Hal ini tentunya
akan mengganggu sistem peredaran darah pada jantung seseorang yang seharusnya
berjalan normal tanpa tekanan. Dan bila hal ini berlarut-larut tidak tertutup
kemungkinan seseorang itu akan mudah terkena penyakit jantung dan akhirnya
dapat menyebabkan stroke.
4. Tidak Percaya Diri dan
Rendah Diri yang Berlebihan (gampang Sakit)
Orang yang memiliki sifat rendah diri biasanya memiliki hubungan yang sangat
buruk dengang lingkungan sekitarnya, begitu juga dengan keluarga terdekatnya.
Dimungkinkan bahwa tubuhnyapun memiliki respon yang sama terhadap penyakit
didalam tubuhnya. Yangmana tubuhnyapun memiliki protecksi yang sangat rendah
terhadap penyakit. Sehingga ketika virus penyebab suatu penyakit itu datang,
maka dengan sangat mudah menjangkiti tubuhnya. Dan begitu juga dalam hal proses
penyembuhannya akan semakin terhambat akibat kurangnya respon positif yang ada
dalam tubuhnya.
Gambar
: Nur Ihsan dan ekspresinya dalam kehidupan
Maka selanjutnya agar manusia bias
selamat dalam kehidupannya baik didunia dan akherat, manusia harus kembali
kepada fitrahnya, dan memerangi sifat-sifat yang buruh, dan menanamkan sifat-sifat yang sehat dalam kepribadiannya
dan kehidupannya.
Kepribadian
yang sehat :
- Mampu menilai diri sendiri
secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan
kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
- Mampu menilai situasi
secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang
dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak
mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
- Mampu menilai prestasi
yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang
diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh
atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang
tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak
mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
- Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap
kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
- Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan
bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri
serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
- Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat
menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau
konstruktif , tidak destruktif (merusak)
- Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam
setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang
(rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai
tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan
keterampilan.
- Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati
terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau
masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir,
menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan
terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk
menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan
dirinya.
- Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan
sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
- Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan
filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
- Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang
didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance
(penerimaan), dan affection (kasih sayang)
Dengan menanamkan sifat-sifat yang sehat, maka akan
lahir sifat
- sifat terpuji , dimana didalam Islam sifat-sifat terpuji itu adalah :
1.
Tafakkur dan Taubah
Tafakkur adalah berpikir yang mengandung pengakuan dan penyesalan terhadap
kesalahan-kesalahan serta bertaubat dari segala dosa. Cara bertafakur menurut
dia, adalah dengan membaca Dua Kalimah Syahadah secara perlahan-lahan dan
menghayati maknanya. Selanjutnya melakukan tiga perkara dalam tafakkur yaitu:
- ‘Ibrah, yaitu mencari-cari kesalahan
diri sendiri, menyesalinya, dan berjanji tidak akan
melakukan perbuatan-perbuatan itu
lagi.
- Khawf, yaitu takut akan murka Allah
dan siksa-Nya serta takut tidak diterima amal-
nya.
- Raja’, yaitu berharap akan rahmat dan ampunan
Allah serta berharap akan diterima
segala amalannya.
2.
. Al-Zuhd
Kehidupan yang kekal adalah kehidupan di akhirat, sedangkan kehidupan di dunia
harus dijadikan bekal ke akhirat. Selanjutnya dia peringatkan agar hidup jangan
tertipu dan terpedaya dengan dunia.
3.
Tawakkal
Tawakal adalah menyerahkan diri. Dalam lirik syairnya "menyerahkan diri
jangan menyesal" dapat diartikan rela terhadap apa yang dikehendaki Allah
SWT. Penjelasannya ini sejalan dengan pendapat Bisyr Al-Hafi yang dikutip
Al-Qusyairi mengatakan “Saya bertawakal kepada Allah SWT., sedang orang lain
berbohong kepada-Nya. Seandainya dia bertawakal kepada Allah SWT., maka pasti
dia rela terhadap apa yang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT”.
4.
Shabar
Manusia perlu senantiasa bersabar, baik bersabar dalam menggunakan nikmat,
bersabar melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, maupun bersabar dalam
menerima cobaan atau hal-hal yang tidak diingini. Abdurrahman Shiddiq
menganjurkan agar senantiasa dapat bersabar dan menahan marah, sebab sifat
sabar mendatangkan banyak mamfaat
Selanjutnya dijelaskannya, bahwa orang yang tidak mempunyai sifat sabar akan
mudah dihinggapi sifat marah. Menurut dia, ada beberapa kerugian sebagai akibat
dari sifat marah. Pertama, hilang akal dan keseimbangan jiwa, sehingga akan
salah dalam mengambil sikap dan tindakan. Kedua, hilangnya atau berkurangnya
iman seseorang. Ketiga, kehilangan sahabat .
5.
Ikhlash dan menjauhi riya
Ikhlash adalah bersih amal kepada Allah, dan sifat ini merupakan syarat untuk
mendapatkan pahala amal ibadah. Dia membagi ikhlash dalam dua macam, yaitu
ikhlash al-abrar dan ikhlash al-muqarrabin. Ikhlash al-abrar adalah seseorang
beramal karena semata-mata menjunjung perintah Allah SWT. tanpa mengharapkan
apapun selain daripada Allah, termasuk tidak mengharapkan surga dan juga tidak
memohon dijauhkan dari api neraka. Sedangkan ikhlash al-muqarrabin adalah
seseorang beramal, tetapi tidak mengakui dan tidak merasa bahwa amalan-amalan
itu sebagai usaha ikhtiarnya, bahkan dalam ma’rifatnya semuanya itu adalah
semata-mata amalan Allah dan atas taufik-Nya. Ikhlash al-abrar disebut ikhlash
li Allah (ikhlas karena Allah), sedangkan ikhlash al-muqarrabin disebut ikhlash
bi Allah (ikhlas dengan pertolongan Allah). Ikhlash al-muqarrabin merupakan
pengertian ikhlash menurut pandangan ulama tasawuf, di mana para sufi
menyebutkan bahwa ikhlash adalah melepaskan diri dari pada daya dan upaya.
Apabila keikhlasan seseorang bisa sampai pada peringkat kedua ini, maka ia akan
terhindar dari pada sifat riya, ‘ujub, dan sum’ah
Dalam kitabnya Risalah fi Aqaid al-Iman Abdurrahman Shiddiq membagi riya dalam
dua macam, yaitu riya jali (yang nyata) dan riya khafi (yang tersembunyi). Riya
jali adalah seseorang beramal di hadapan orang lain, tetapi apabila ia
sendirian amalan itu tidak dikerjakannya. Sedangkan riya khafi ialah seseorang
beramal baik di hadapan orang lain ataupun tidak, tetapi dia suka kalau mereka
berada di hadapannya.
Sum’ah, ialah seseorang beramal sendirian kemudian dia menghabarkannya kepada
orang lain, supaya mereka membesarkannya atau supaya dia mendapat kebajikan
dari mereka. Adapun ‘ujub adalah seseorang merasa heran atas kepandaian dan
kehebatannya. Misalnya, seorang ‘abid merasa kagum dengan ibadahnya, atau
seorang alim merasa kagum dengan ilmunya.
6.
Tawadhu’dan menjauhi takabbur.
Sifat tawadhu menunjukkan adanya keluasan akal dan pandangan, dan sebaliknya
sifat takabbur menunjukkan kepicikan akal pikiran. Dia menegaskan, bahwa sifat
takabur sangat dilarang oleh Allah SWT.. Orang takabur dikatakannya sebagai
seorang yang celaka, oleh karenanya akan dimasukkan ke dalam api neraka.
7.
Syukur dan Ridha
Abdurrahman Shiddiq menganjurkan hamba Allah agar selalu ridha terhadap qadha
Allah, dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya dan bersabar atas cobaan-Nya.
Syukur ialah menggunakan nikmat yang diperoleh pada jalan yang diridai Allah
SWT . Manusia harus mensyukuri pemberian Allah, ridha terhadap ketentuan-Nya,
serta bersabar menanggung cobaan, untuk itu seseorang harus husn al-zhan kepada
Allah. Selanjutnya ia membagi husn al-zhan kepada empat bagian. Pertama,
seseorang berprasangka bahwa Allah mengasihinya. Kedua, berprasangka bahwa
Allah mengetahui akan segala kesalahannya. Ketiga, berprasangka bahwa Allah
mengampuni segala dosanya. Dan keempat, berprasangka bahwa segala yang tersebut
itu mudah bagi Allah SWT.
8.
Shiddiq
Abdurrahman Shiddiq menekankan pentingnya shiddiq (benar) dalam berperilaku
sehari-hari, selalu benar dalam segala ucapan dan perbuatan.
9.
Mahabbah (Mencintai Allah dan Rasul-NYa)
Dalam kitabnya Asrar al-Shalat min ‘Iddat Kutub al-Mu’tamadah menyebutkan;
“Adapun syarat-syarat sah iman itu, di antaranya mencintai akan Allah SWT. dan
mencintai Nabi.” Mahabbah kepada Allah adalah orang yang senantiasa melakukan
tafakkur dan zikrullah.
10. Zikr
al-Maut (Mengingat Mati)
Setiap orang perlu menyadari dan menginsyapi akan adanya kematian. Kesadaran
akan datangnya maut, merupakan pendorong bagi seseorang untuk bekerja keras
untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan dan menghindari yang merugikannya di
alam akhirat.
Dalam ajarannya tentang taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq,
mahabbah, zikr al-maut, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Ajaran taubah dan
lain-lainnya itu disebutnya sebagai tarekat (jalan) yang menyempurnakan syariat
dan ta’alluq (bergantung) pada hati serta diimplikasikan dalam perilaku .
Dengan demikian, menurut Abdurrahman Siddiq; ajaran taubah, zuhud, tawakal,
shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut dan sifat-sifat terpuji lainnya
merupakan nilai etika atau akhlak yang akan diperjuangkan dan diwujudkan oleh
seorang hamba dalam merambah kesempurnaan spritual dalam praktik ibadah.
Dengan sendirinya sifat-sifat ini akan
terhujam didalam lubuk hati yang paling dalam, rasa yakin, sabar, ikhlas,
tawakkal, dan ridho. Yang akhirnya akan
terpancar dalam kehidupannya, baik dalam hal ihsan kepada Alloh, ihsan kepada
Manusia, ihsan kepada tumbuhan, dan ihsan kepada hewan.
InsyaAlloh dengan demikian manusia akan selamat baik didunia dan diakherat kelak. Amin.