Kamis, 13 Desember 2012

SETELAH PADA PUNCAKNYA

Aku seorang sarjana pendidikan ( S2 ) dengan jurusan TEP ( Tehnologi Pembelajaran ) yang dengan izin Alloh diberikan tugas sebagai pengajar di Sekolah Lanjutan Pertama. 10 ( sepuluh ) tahun sudah aku mengabdikan diriku, dan selama itu aku mengadakan riset ( action riset ) terhadap kegiatan pembelajaran khususnya Sistem Pembelajaran dan Sistem Instraktional. Dengan bekal ilmu pendidikan yang aku peroleh dari pendidikan pasca sarjana ( S2 ) tehnologi pembelajaran, aku mulai mengadakan riset terhadap siswa-siswi disekolah.
Berhari-hari,berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sampai akhirnya aku dapat menterjemahkan didalam tulisan beberapa pengertian ilmu pendidikan seperti :
1. Sistem Pembelajaran.
2. Sistem Instraksional.
3. Pengembangan Sistem Pembelajaran.
4. Strategi Pembelajaran Berbasis Sistem. dll
 

Tetapi pada akhirnya, pada puncaknya setelah semua khasanah ilmu pendidikan saya terjemahkan kedalam tulisan, aku merasakan betapa luasnya, betapa besarnya, betapa banyaknya, ilmu pengetahuan yang dilahirkan dari pengamatan alam dan atas kebesaranNya. Sehingga aku yang merasakan mendapatkan ilmu yang banyak ( ilmu pendidikan ) atas rahmatNya, tetapi disitu aku merasakan betapa kecilnya aku, betapa bodohnya aku, betapa kerdilnya aku, bila dibandingkan masih banyaknya ilmu pengetahuan yang sangat banyak, sangat luas, dan tersebar dibidang-bidang keahlian lainnya.
Disitulah aku mulai merasakan kekuasaan yang besar, adanya pengasih dan penyayang yang maha agung dan telah diberikan kepada aku, sehingga aku bisa menterjemahkan sebagian kecil dari cabang-cabang ilmu yang sangat luas ini.
Semoga dengan demikian bukan kesombongan yang muncul dihatiku, tetapi malah sebaliknya aku semakin merasakan bahwa sebenarnya aku tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan seluas lautan ilmu pengetahuan yang ada. Amin.

SELUBUNG KEGELAPAN YANG MENAKUTKAN

Ada dua sikap yang terselib didalam hati sanubari, yang menakutkan dan menyesatkan.
1. Rasa ketidak percayaan terhadap diri sendiri.
2. Rasa malu yang berlebihan.

Ketidak percayaan terhadap diri sendiri, akan menyeret manusia kedalam jurang keputus asaan, yang akhirnya apabila tidak kuat akan menjerumuskan kedalam jurang kenistaan.
Rasa malu yang berlebihan, juga akan menimbulkan rasa minder dan kecil hati yang akhirnya menyeret manusia keluar dari pergaulan, menyendiri, menyepi dan putus asa.

Oleh karena itu hati-hatilah didalam bertingkah laku, agar tidak terjerat kedalam dua sikap tersebut, berpedomanlah kepada aturan yang benar, dan jangan menyombongkan diri.

Cobalah untuk bersikap :
1. Tahu posisi kita.
Artinya didalam kondisi dan situasi apapun kita harus tahu sebagai apakah kita ini, dan harus bagaimanakah kita ini.

2. Tahu kekuatan kita.
Artinya didalam situasi dan kondisi apapun kita harus tahu siapa kita, dan dimana kita.

3. Mohonlah bantuan kepada yang lebih tahu, atau yang kita tuakan.
Artinya yang lebih tahu dan berpengalaman akan membimbing kita insyaAlloh.

Dengan demikian kita akan terhindar darinya. Semoga.

KETENANGAN DENGAN SILATUROHMI

Sudah selayaknya sebagai manusia untuk saling silaturohmi, bahkan dianjurkan agar persaudaraan yang telah dibina tidak lepas atau putus. Bahkan kita dilarang untuk memutuskan tali silaturohmi. Pada saat ini silaturohmi sering dilakukan bila hanya ada keperluan tertentu, sehingga baru ada silaturohmi ketika ada keperluan, tetapi bila tidak ada maka semua akan diam. Sedangkan pada saat kita mau berkunjung untuk silaturohmi sering dihantui perasaan yang bermacam-macam, karena adanya kepentingan tadi, dan yang lebih buruknya lagi maka kegiatan silaturohmi tidak dilakukan karena persaan tadi. Akhirnya tidak ada lagi saling kunjung mengunjungi, saling bersilaturohmi.

Marilah kita ubah tradisi ini kembali kepada silaturohmi murni, walaupun ada keperluan yang sangat penting mialnya, tetapi nomor satukan silaturohmi, dengan demikian maka akan terjadi keenjoian, kenikmatan, dan kesenangan didalam hidup dan kehidupannya.