Aku seorang sarjana pendidikan ( S2 ) dengan jurusan TEP ( Tehnologi Pembelajaran ) yang dengan izin Alloh diberikan tugas sebagai pengajar di Sekolah Lanjutan Pertama. 10 ( sepuluh ) tahun sudah aku mengabdikan diriku, dan selama itu aku mengadakan riset ( action riset ) terhadap kegiatan pembelajaran khususnya Sistem Pembelajaran dan Sistem Instraktional.
Dengan bekal ilmu pendidikan yang aku peroleh dari pendidikan pasca sarjana ( S2 ) tehnologi pembelajaran, aku mulai mengadakan riset terhadap siswa-siswi disekolah.
Berhari-hari,berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sampai akhirnya aku dapat menterjemahkan didalam tulisan beberapa pengertian ilmu pendidikan seperti :
1. Sistem Pembelajaran.
2. Sistem Instraksional.
3. Pengembangan Sistem Pembelajaran.
4. Strategi Pembelajaran Berbasis Sistem. dll
Tetapi pada akhirnya, pada puncaknya setelah semua khasanah ilmu pendidikan saya terjemahkan kedalam tulisan, aku merasakan betapa luasnya, betapa besarnya, betapa banyaknya, ilmu pengetahuan yang dilahirkan dari pengamatan alam dan atas kebesaranNya. Sehingga aku yang merasakan mendapatkan ilmu yang banyak ( ilmu pendidikan ) atas rahmatNya, tetapi disitu aku merasakan betapa kecilnya aku, betapa bodohnya aku, betapa kerdilnya aku, bila dibandingkan masih banyaknya ilmu pengetahuan yang sangat banyak, sangat luas, dan tersebar dibidang-bidang keahlian lainnya.
Disitulah aku mulai merasakan kekuasaan yang besar, adanya pengasih dan penyayang yang maha agung dan telah diberikan kepada aku, sehingga aku bisa menterjemahkan sebagian kecil dari cabang-cabang ilmu yang sangat luas ini.
Semoga dengan demikian bukan kesombongan yang muncul dihatiku, tetapi malah sebaliknya aku semakin merasakan bahwa sebenarnya aku tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan seluas lautan ilmu pengetahuan yang ada. Amin.
Kamis, 13 Desember 2012
SELUBUNG KEGELAPAN YANG MENAKUTKAN
Ada dua sikap yang terselib didalam hati sanubari, yang menakutkan dan menyesatkan.
1. Rasa ketidak percayaan terhadap diri sendiri.
2. Rasa malu yang berlebihan.
Ketidak percayaan terhadap diri sendiri, akan menyeret manusia kedalam jurang keputus asaan, yang akhirnya apabila tidak kuat akan menjerumuskan kedalam jurang kenistaan.
Rasa malu yang berlebihan, juga akan menimbulkan rasa minder dan kecil hati yang akhirnya menyeret manusia keluar dari pergaulan, menyendiri, menyepi dan putus asa.
Oleh karena itu hati-hatilah didalam bertingkah laku, agar tidak terjerat kedalam dua sikap tersebut, berpedomanlah kepada aturan yang benar, dan jangan menyombongkan diri.
Cobalah untuk bersikap :
1. Tahu posisi kita.
Artinya didalam kondisi dan situasi apapun kita harus tahu sebagai apakah kita ini, dan harus bagaimanakah kita ini.
2. Tahu kekuatan kita.
Artinya didalam situasi dan kondisi apapun kita harus tahu siapa kita, dan dimana kita.
3. Mohonlah bantuan kepada yang lebih tahu, atau yang kita tuakan.
Artinya yang lebih tahu dan berpengalaman akan membimbing kita insyaAlloh.
Dengan demikian kita akan terhindar darinya. Semoga.
1. Rasa ketidak percayaan terhadap diri sendiri.
2. Rasa malu yang berlebihan.
Ketidak percayaan terhadap diri sendiri, akan menyeret manusia kedalam jurang keputus asaan, yang akhirnya apabila tidak kuat akan menjerumuskan kedalam jurang kenistaan.
Rasa malu yang berlebihan, juga akan menimbulkan rasa minder dan kecil hati yang akhirnya menyeret manusia keluar dari pergaulan, menyendiri, menyepi dan putus asa.
Oleh karena itu hati-hatilah didalam bertingkah laku, agar tidak terjerat kedalam dua sikap tersebut, berpedomanlah kepada aturan yang benar, dan jangan menyombongkan diri.
Cobalah untuk bersikap :
1. Tahu posisi kita.
Artinya didalam kondisi dan situasi apapun kita harus tahu sebagai apakah kita ini, dan harus bagaimanakah kita ini.
2. Tahu kekuatan kita.
Artinya didalam situasi dan kondisi apapun kita harus tahu siapa kita, dan dimana kita.
3. Mohonlah bantuan kepada yang lebih tahu, atau yang kita tuakan.
Artinya yang lebih tahu dan berpengalaman akan membimbing kita insyaAlloh.
Dengan demikian kita akan terhindar darinya. Semoga.
KETENANGAN DENGAN SILATUROHMI
Sudah selayaknya sebagai manusia untuk saling silaturohmi, bahkan dianjurkan agar persaudaraan yang telah dibina tidak lepas atau putus. Bahkan kita dilarang untuk memutuskan tali silaturohmi.
Pada saat ini silaturohmi sering dilakukan bila hanya ada keperluan tertentu, sehingga baru ada silaturohmi ketika ada keperluan, tetapi bila tidak ada maka semua akan diam. Sedangkan pada saat kita mau berkunjung untuk silaturohmi sering dihantui perasaan yang bermacam-macam, karena adanya kepentingan tadi, dan yang lebih buruknya lagi maka kegiatan silaturohmi tidak dilakukan karena persaan tadi. Akhirnya tidak ada lagi saling kunjung mengunjungi, saling bersilaturohmi.
Marilah kita ubah tradisi ini kembali kepada silaturohmi murni, walaupun ada keperluan yang sangat penting mialnya, tetapi nomor satukan silaturohmi, dengan demikian maka akan terjadi keenjoian, kenikmatan, dan kesenangan didalam hidup dan kehidupannya.
Marilah kita ubah tradisi ini kembali kepada silaturohmi murni, walaupun ada keperluan yang sangat penting mialnya, tetapi nomor satukan silaturohmi, dengan demikian maka akan terjadi keenjoian, kenikmatan, dan kesenangan didalam hidup dan kehidupannya.
Senin, 09 Januari 2012
WADUH RASANYA BERAT
Kita lahir didunia dengan segala panca indra, organ tubuh, dan menyatu dalam sistem, dikendalikan oleh rasa dan rasio kita. Itulah secara garis besar proses kehidupan kita dalam menaungi bahtera kehidupan.
Berbagai stimulus masuk kedalam benak kita, baik dari lingkungan hidup ataupun ligkungan mati, baik dari yang dekat ataupun yang jauh, baik yang lembut ataupun yang keras, baik yang kasih ataupun yang benci, semua masuk kedalam, kedalam hati yang paling dalam.
Dari situ semua akan kita saring dalam bentuk respon yang berupa prilaku ataupun perubahan prilaku, dimana kalau kita pandai-pandai menyaring semua stimulus maka akan berpengaruh terhadap prilaku yang baik, tetapi bila kita salah maka akan timbul prilaku yang buruk.
Waduh berat rasanya bila kita tak memahami lingkungan, kita akan terperosok dan jatuh kedalam jurang kemerosotan, karena salah dalam mengevaluasi stimulus, dan merespon dengan sesuatu yang buruh, sehingga secara otomatis prilaku kita jadi buruk juga.
Bagaimana caranya mengatur agar kita tidak terperosok:
Sebenarnya stimulus-stimulus itu saling berkaitan satu dengan lainnya, dan juga respon yang kita lakukan, juga berkait lagi dengan stimulus yang akan datang, sehingga stimulus-respon, stimulus-respon terus berlangsung didalam kehidupan kita.
Lalu apa yang kita tangkap " konsekwensi ", konsekwensi baik ataupun buruk. Dimana konsekwensi baik dan buruk itu tergantung dari pengolahan stimulus-respon yang kita terima.
Dari penekanan konsekwensi itulah yang akan mempengaruhi prilaku kita, bahkan dapat merubah prilaku kita. Bila kita pandai mengolah stimulus-respon, maka konsekwensi yang kita lakukan pasti baik bagi kita, dan perubahan prilaku kita akan memantapkan segala perjalanan hidup kita.
Secara garis besarnyanya Stimulus-respon itu antara lain :
1. Dorongan atau drive dari lingkungan.
2. Rangsangan atau stimulus dari lingkungan.
3. Baru disini ada respon dari kita.
4. Penguatan ( reinforce ), perbaikan dari respon yang kita lakukan, bila salah kita perbaiki, bila sudah baik kita tingkatkan.
Langganan:
Komentar (Atom)