Kamis, 09 Juni 2011

BAGAIMANA KALAU DENGAN PUJI-PUJIAN

Tidak mungkin didalam kehidupan ini, kita hidup sendiri dan menyendiri, tetapi kita hidup dalam lingkungan keluarga, RT ( rukun tetangga ), RW ( rukun warga ), desa, dan lingkungan yang seterusnya. Untuk hidup didalam kehidupan ini perlua adanya komunikasi, baik antar saudara, antar tetatangga atau teman dan orang lain yang dapat diajak untuk berbicara. Alangkah bahagianya bila percakapan itu membuahkan hasil yang membahagiakan, menyenangkan atau menambah semangat hidup ini.

Tetapi kadang sebaliknya, percakapan yang terjadi entah disadari atau tidak disadari, berupa :

1. Sindiran-sindiran baik yang kecil atau yang besar ( sarkasme ).
2. Caci maki yang berakhir dengan pertengkaran.
3. Memojokkan atau menyudutkan.

Kalau kita pikir kenapa ini terjadi, bukankah ini tak perlu kita lakukan, tak perlu kita kerjakan, tak perlu kita perlihatkan, tak perlu kita bicarakan, karena dengan demikian kita telah memperlihatkan bagaimana corak kepribadian kita dihadapan mereka.

Empat ( 4 ) Pilar Percakapan yang baik :

Bagaimana kalau awal pembicaraan diawali dengan permintaan maaf, seperti “ maaf kan saya, begini ........dst “, saya kira percakapan selanjutnya akan nyaman dan enak untuk diperdengarkan dan sepertinya lebih bersahabat dan lebih bersaudara. Sebab dengan demikian maka lawan bicarapun akan leluasa untuk mengutarakan isi hatinya, dan kitapun akan leluasa juga untuk mengajak bicara.


Bagaimana kalau percakapan difokuskan kepada pujian terhadap lawan bicara kita, seperti “ oh bajumu baik sekali, beli dimana........”, “ alangkah baiknya kalau memakai dasi..........”, saya kira percakapan ini akan menambah gairah lawan bicara untuk mengembangkan pokok pembicaraan sampai sedetil-detilnya. Saling memuji saling saling menghargai dan lain sebagainya, sehingga apa yang terucap didalam percakapan itu akan terpatri dimemori kita masing-masing, dan suatu waktu pasti akan kita kenang kembali.

Bagaimana kalau diselingi dengan rasa syukur , seperti “ alhamdulillah kita masih diberi kenikmatan..........sehingga..”. “ Alkhamdulillah kita dipertemukan........kalau tidak.......”. Rasa syukur inilah yang menambah semangat kita, dan memberikan kesadaran yang tinggi bahwa sebenarnya manusia itu tidak berdaya, tetapi dengan kesadaran itulah maka manusia menjadi punya daya untu berikhtiar dan berdoa, agar hidup dan bahagia .

Bagaimana kalau dengan percakapan-percakapan yang baik-baik saja, sperti “ Bagaimana udah selesai pekerjaannya..........”, “ bagaiaman kalau kita bekerja bersama-sama...............”. Saya kira ini akan menambah sahaya dan wawasan bicara kita semakin bertambah, kenapa demikian sebab percakapan pembicaraan yang baik sumbernya dari Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar